Parkir Mobil untuk Rumah Tinggal Bisa Jadi Masalah Besar
23 Mei 2009
PADA beberapa kompleks perumahan di DKI Jakarta, kita mudah sekali keluar masuk di sana saat siang hari. Namun di malam hari, jalanan yang ada di sana jadi sempit karena banyaknya mobil yang terparkir di sana.
BUKAN. Mobil-mobil itu bukanlah mobil tamu yang datang malam. Benda-benda beroda empat itu adalah milik orang-orang di dalam kompleks perumahan itu. Saat siang, mobil itu bepergian bersama pemiliknya. Namun pada malam hari, tatkala pemiliknya pulang, sebuah mobil bisa menjadi masalah bagi seluruh kompleks perumahan. Karena sempitnya lahan, sebuah mobil belum tentu terparkir di dekat rumah pemiliknya.
Inilah probelem besar yang dihadapi masyarakat di perkotaan. Areal yang ada, habis terpakai untuk dibanguni rumah, sedikit areal untuk tanaman hijau, jemuran dan lahan parkir.
Dalam perkembangannya kemudian, warga merasa tidak cukup hanya dengan satu sepeda motor atau satu mobil. Sebuah keluarga kecil: suami istri, dengan tiga anak yang berangkat dewasa, merasa tidak cukup hanya dengan satu mobil. Keluarga ini, karena kemampuan ekonomi, akhirnya mampu membeli tiga mobil tambahan. Akibatnya, lahan parkir yang ada tidak cukup menampung tiga mobil baru. Jadilah halaman dan dan taman luar rumah menjadi areal parkir mobil. Ini, jelas fenomena yang sangat tidak sehat.
Kini, lebih parah lagi, banyak rumah di pinggiran Jakarta sama sekali tidak memberi ruang bagi tempat parkir pribadi. Seluruh luas tanah yang dimiliki, habis dipakai untuk area rumahnya. Parkir mobil dicadangkan di jalanan depan rumah. Ini artinya memakai area publik untuk kepentingan pribadi. Kembali seperti alinea awal tulisan ini, orang lain yang tidak tinggal di situ menjadi kesulitan saat sekadar lewat. Jalan yang sempit makin menjadi sempit karena dipenuhi mobil warga yang parkir.
Daya beli
Para pengembang perumahan di Jakarta sangat memahami hal ini sehingga membuat rumah yang lebih besar dan dengan lahan parkir lebih luas. Akan tetapi masalahnya kemudian terpulang kepada daya beli masyarakat. Sebab makin besar rumah yang ditawarkan pengembang kepada masyarakat, makin mahal harga rumah tersebut.
Apakah dengan hadirnya masalah masyarakat harus dibatasi untuk membeli mobil? Rasanya tidak adil sebab, ini menyangkut hak warga untuk membeli. Masyarakat bisa berpikir bahwa dengan uang halal, yang mereka peroleh dengan kerja keras, pantas kalau diganjar dengan mobil bagus.
Jalan keluar bagi hal ini tampaknya perlu dilakukan. Misalnya dengan membuat lahan parkir yang benar-benar feasible untuk dimanfaatkan.
Di Osaka, Jepang, Kompas menyaksikan beberapa solusi parkir warga yang menarik. Di Jepang, masalah mobil pribadi memang tidaklah serumit masalah Jakarta karena di sana sarana angkutan umum sudah sangat baik. Mobil pribadi bukanlah pilihan pertama dalam bepergian.
Walau begitu, karena harga tanah sangat mahal, rumah-rumah yang ada jarang sekali yang memiliki halaman yang cukup luas untuk menaruh mobil.
Sebuah kompleks perumahan umumnya mempunya lahan parkir kolektif. Artinya, dalam sebuah blok perumahan, warga yang memiliki mobil berpatungan untuk membeli sebidang lahan yang akan dipakai untuk tempat parkir bersama-sama.
Konsekuensi hal ini adalah, sebuah mobil bisa jadi terletak agak jauh dari rumah pemiliknya. Namun, ini konsekuensi logis yang lain dari besarnya uang patungan untuk membeli lahan itu. Yang rumahnya dekat ke lahan parkir, bayarnya lebih mahal daripada yang rumahnya lebih jauh.
Di Indonesia, hal ini agak sulit dilakukan karena kecenderungan orang Indonesia yang kalau sudah punya mobil enggan berjalan kaki sejengkal pun. Jadi, kalau bisa mobil pun diparkir di depan pintu.
Sebuah solusi perparkiran lain di Osaka yang juga menarik adalah garasi hidrolik.
Dengan garasi hidrolik yang harganya memang tidak murah ini, sebuah mobil bisa diparkir di atas mobil lainnya.
Cara kerja garasi hidrolik seperti yang terlihat di dua foto di halaman ini, mirip dengan cara kerja dongkrak.
Mobil yang akan diparkir diletakkan di atas plat yang lalu diangkat dengan peralatan hidrolik. Area kosong di bawah plat hidrolik itu bisa diisi mobil lain.
Namun,, apa pun solusinya, kenyamanan hidup kita semua memang ditentukan cara hidup kita sendiri.(as/arb)